Home / Tentang Kami / Cara Kerja

Cara Kerja

 

Kriteria

 

Berdasarkan Visi dan Misinya, LITINDO hanya menerima proyek-proyek yang memenuhi kriteria yang berikut:

 

  1. Harus sesuai dengan strategi maket perpustakaan-dasar teologi reformed yang ditetapkannya. Tiap terbitan harus merupakan tambahan yang dianggap perlu melihat apa yang terlah tersedia di Indonesia
  2. Berciri reformed. Tiap terbitan harus berdasarkan pengakuan Alkitab sebagai Firman Allah yang layak dipercaya, seperti diakui dalam dokumen-dokumen pengakuan reformed (mis. Pengakuan Westminster, Pengakuan Iman Belanda, Pasal-pasal Ajaran Dordrecht).
  3. Dapat bermanfaat bagi keseluruhan kekristenan di Indonesia:
    1. Kepentingannya melebihi kepentingan regional. Pokok pembahasannya harus berkepentingan bagi semua orang Kristen di seluruh Indonesia. LITINDO sadar bahwa kadang-kadang sangat perlu diterbitkan salah satu buku mengenai sesuatu yang mendesak di salah satu daerah di Indonesia. Namun LITINDO berpendapat bahwa jikalau ada gereja yang ada usulan seperti itu, harus dicari bantuan dari sponsornya sendiri.
    2. Tingkat isinya perlu demikian sehingga dapat diterima oleh orang Indonesia di seluruh daerah. LITINDO ingin memberi sumbangan struktural yang bertaraf tinggi di pasaran literatur teologi reformed di Indonesia. LITINDO tidak bermaksud memberi bantuan darurat dalam arti menerbitkan brosur yang kepentingannya hanya sementara saja, atau yang tingkatnya terlalu rendah.
    3. Bahasanya haruslah Bahasa Indonesia yang resmi. Tiap terbitan LITINDO harus menggunakan tingkat bahasa yang berlaku umum di Indonesia.

 

 

Metode

 

Pada setiap usulan atau permohonan dari GGRI atau dari instansi gerejawi lain di Indonesia kepada LITINDO untuk menerbitkan buku mengenai salah satu pokok, LITINDO mengikuti cara kerja yang berikut:

 

  1. Pemeriksaan apakah usulan tersebut memenuhi semua criteria yang berlaku untuk proyek-proyek yang ditangani LITINDO.
  2. Pemeriksaan pasar buku Indonesia untuk mengetahui apakah tentang pokok yang diusulkan sudah ada terbitan dalam bahasa Indonesia, dan kalau ada, apakah isi terbitan itu berciri reformed sehingga dapat dianggap bagian perpustakaan-dasar reformed yang ditujui LITINDO. Jikalau ternyata sudah ada buku yang demikian, maka LITINDO tidak akan usulan tersebut itu.

Contoh: pada daftar GGRI tahun 1991 diusulkan terjemahan dari New Bible Dictionary yang disusun oleh Douglas. Pada pemeriksaan pasar menjadi jelas bahwa buku itu sedang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, dan naskahnya sudah siap-cetak. Yang menjadi masalah ialah bahwa penerbitnya belum mengumpulkan cukup dana untuk menerbitkannya. Lalu LITINDO memutuskan untuk membantu membiayai penerbitan buku itu. Tetapi sementara itu sang penerbit sudah berhasil menemukan sponsor yang lain, sehingga sumbangan LITINDO tidak diperlukan lagi.

  1. Pemeriksaan pasar buku Belanda dan Inggris untuk mengetahui apakah ada buku yang cocok untuk gereja-gereja di Indonesia sehingga dapat diterjemahkan. Kalau ada, dibuat konsep terjemahan oleh seorang penerjemah di Indonesia. Selanjutnya, salah satu dari penulis LITINDO menyunting konsep itu dengan seksama, untuk memastikan bahwa terjemahan itu sungguh-sungguh sesuai dengan maksud dan tujuan pengarang asli.

Contoh: 'Kristus di Bumi' dan 'Markus - Injil menurut Petrus' (J. van Bruggen).

  1. Sering kali pemeriksaan pasar buku Belanda dan Inggris tidak menghasilkan buku cocok untuk diterjemahkan begitu saja, tetapi hanya buku yang perlu penyesuaian dengan situasi di Indonesia. JIkalau demkian, dibuat lagi konsep terjemahan oleh seorang penerjemah di Indonesia. Selanjutnya, salah satu dari penulis LITINDO memeriksa konsep terjemahan itu dan mengolahnya: ada contoh-contoh yang dipakai yang perlu diganti dengan contoh-contoh baru agar maksudnya jelas bagi orang Indonesia; situasi dan literatur Indonesia perlu dimasukkan ke dalam naskah asli, sehingga buku itu ikut berbicara dalam diskusi teologi di Indonesia.

Contoh: Alkitab Bukan Teka-Teki (Tj. Boersma). Dalam mengolah buku itu, Pdt. Riemer telah memasukkan situasi dan literatur Indonesia di dalamnya, sehingga buku itu juga ikut berbicara dalam diskusi teologi di Indonesia. Hal yang sama telah dilakukan oleh Pdt. Groen dengan buku 'Wie maakte de Bijbel?' (Prof Dr. J. van Bruggen).

  1. Jikalau LITINDO tidak menemukan buku yang dapat diterjemahkan atau disesuaikan menjadi cocok untuk orang di Indonesia, maka tidak ada jalan lain kecuali mengarang sebuah buku sendiri mengenai pokok yang diusulkan. Khususnya di bidang etika, pokok-pokok perlu dibahas dalam konteks kehidupan di Indonesia. Tetapi hal itu berlaku juga bagi banyak buku-buku teologi yang lain.

Contoh: seri 'Pembinaan Jemaat' ditulis khusus untuk para pembaca di Indonesia. Lagi pula buku-buku pedoman ilmu teologi: 'Cermin Injil' (Liturgik, pdt Riemer), 'Ajarlah mereka' (Katekese, pdt. Riemer), 'Injil untuk semua orang' (Misiologi, pdt. Venema).

  1. Hasil terjemahan, penyaduran, dan penulisan dikoreksi bahasnya oleh seorang Indonesia. Hasil koreksi itu perlu diperiksa kembali oleh si penerjemah / penulis, sampai akhirnya konsep buku siap untuk diterbitkan.
  2. LITINDO menerbitkan buku-buku melalui beberapa penerbit di Indonesia:
    1. Yayasan Komunikasi 'Bina Kasih' (YKBK) di Jakarta;
    2. Badan Penerbit Kristen 'Gunung Mulia' (BPK) di Jakarta;
    3. Momentum Christian Literature (Momentum) di Surabaya.