Home / Sejarah / Efek

Efek

Buku-buku LITINDO sudah banyak yang sampai kepada para pembaca di Indonesia. Terbitan-terbitan yang pertama, yaitu keempat jilid seri Pembinaan Jemaat, sudah cepat meraih sukses besar. Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) memesan tidak kurang dari 400 buku dari salah satu jilid. Jemaat-jemaat Gereformeerd di Papua membeli dari setiap judul 100 eksemplar. Gereja Maluku menulis surat resmi kepada penerbit dengan permintaan untuk mengirimkan lebih banyak jenis lektur seperti keempat jilid itu. Selain itu datang pesanan-pesanan buku-buku itu dari Gereja Injili Kristen di Minahasa dan dari Gereja Batak (HKBP) di Sumatra. Juga Departemen (Negeri) Agama memesan 70 buku dari setiap judul. Lagipula, dalam kunjungan-kunjungan ke toko-toko buku Kristen di berbagai daerah di Indonesia, kami melihat bahwa buku-buku LITINDO dijual di situ, dan bahwa penjualannya cukup memuaskan. Hal itu juga terbukti dari kenyataan bahwa di antara buku-buku itu sudah ada beberapa yang dicetak-ulang.

 

Pdt. Dara Hae Doko, waktu itu rektor Sekolah Teologi Menengah di Waimarangu (Sumba, NTT), mengatakan tentang arti penting LITINDO bagi masa depan GGRI: "Buku-buku Litindo menjadi sahabat kami di masa depan. Pada suatu waktu Anda sekalian, para penginjil, akan pergi, lalu kami ditinggal sendiri. Tetapi buku-buku LITINDO, akan tetap bersama kami, dan akan menjadi sahabat yang setia di masa mendatang..." Siapa yang mengarang, akan tetap dikenang!

 

Dari Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) kami menerima surat di mana mereka menyatakan bahwa keempat jilid tadi "sangat sesuai sebagai pedoman dalam sinode/gereja untuk memingkatkan pelayanan para pekerja gereja, dan juga untuk mengatur administrasi bagi semua kegiatannya secara lebih baik. Bahan-bahannya yang tersusun dengan baik, bersifat informatif, dan sungguh memenuhi apa yang justru kami butuhkan." Biasanya kami menerima tanggapan yang positif mengenai isi buku-buku kami. Dalam tanggapan itu selalu dikatakan bahwa isi buku-buku itu langsung mengacu kepada Alkitab. Di dalam buku-buku itu tidak diberitakan pendapat-pendapat manusia, dan Alkitab tidak dipakai untuk membenarkan pendapat-pendapat manusiawi itu. Justru sebaliknya: Alkitab ialah titik tolaknya dan juga titik perbandingannya. Tanggapan itu sangat bagus, yang dengan tepat mencerminkan keinginan LITINDO, yaitu membiarkan Alkitab berbicara sendiri.

 

LITINDO ialah proyek yang berakar dalam Gereja-Gereja Reformasi di Indonesia (GGRI). Gereja-gereja ini terbentuk sebagai hasil pekerjaan Pekabaran Injil (Zending) dari GKV (Gereformeerde Kerken Vrijgemaakt, Gereja-Gereja Reformed yang dibebaskan di Belanda) di beberapa Propinsi: di Papua, di Kalimantan Barat, dan di Nusa Tenggara Timur (NTT) di pulau Sumba, Sabu dan Timor.

Pekerjaan LITINDO menciptakan sebuah jaringan yang terdiri dari banyak kontak dan relasi, yang juga dapat bermanfaat bagi pembangunan GGRI. Sekarang ini makin banyak gereja dan lembaga teologi yang mengundang para dosen/penulis LITINDO untuk mengajar atau mengadakan seminar. Melalui pekerjaan literatur teologi itu berbagai pintu mulai terbuka. Demikianlah Tuhan memperlihatkan banyak kemungkinan kepada kami, kemungkinan yang tidak boleh kami abaikan.