Home

Home

Column: Panggilan LITINDO


Tanggal: 30-07-2012

Penulis: Henk Venema


Panggilan LITINDO untuk menjelaskan fakta-fakta Allah yang tidak tersangkal
“Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati” 
(1 Korintus 15:20)
 
“Boleh saya bertanya, apakah Pak percaya semua kisah Alkitab benar-benar terjadi?” Pertanyaan itu dikemukakan pada satu dari sembilan seminar yang saya sempat berikan pada kunjungan LITINDO ke Indonesia baru-baru ini (Mei-Juni 2012). Pertanyaan ini langsung mengenai ciri khas Kitab Suci: apakah Alkitab bersifat kebenaran Ilahi yang menguraikan fakta-fakta historis (buku sejarah) atau pandangan manusia yang menguraikan keyakinan-keyakinannya tentang Allah dengan memakai gambar-gambar yang konkrit (buku filsafat)?
 
Selama enam minggu saya lagi berkeliling di Indonesia – tahun ini ke Jakarta, Papua, dan Jawa Tengah – untuk field testing dan field tasting, yaitu untuk berunding dengan para penerjemah dan penerbit dan bergaul dengan para pembaca buku-buku LITINDO, untuk mempresentasikan dan mempromosikan buku-buku yang baru terbit, untuk mencoba bahan-bahan baru yang sedang dikerjakan dan mengumpulkan data-data aktual untuk program penerbitan yang berikutnya. Pengalaman saya, seminar atau lokakarya merupakan sarana-sarana yang sangat bermanfaat untuk mencapai sasaran-sasaran kunjungan tahunan itu.
Pada satu dari semua seminar itu, yang khususnya dibicarakan ialah arti dan ciri-ciri khas teologi Reformed, dasar doktrin dan hermeneutik yang LITINDO pertahankan dalam buku-bukunya. Semboyan-semboyan Reformasi abad ke-16 (Calvin, Luther, dll) tetap berfungsi sebagai fondasi dan titik-tolak LITINDO: Sola Gratia, Sola Fide, Sola (dan Tota) Scriptura, juga Back to the Bible (‘Kembali ke Kitab Suci’, yaitu sebagai kebenaran Allah yang satu-satunya). Inti teologi Reformed ialah pengakuan iman bahwa Alkitab sungguh-sungguh adalah (=) firman Allah, yang bersifat sejarah (sejarah keselamatan) dan norma (untuk hidup sehari-hari). Dari menyesuaikan diri dengan ‘masa kini’, kebudayaan, tradisi, atau ilmu, gereja dan orang Kristen terus menerus dipanggil untuk hidup sesuai kebenaran firman Tuhan. Ini ciri khas ajaran Reformed yang diutarakan LITINDO dan yang merupakan dasar keberadaannya.
 
Jawaban saya pada pertanyaan peserta seminar apakah menurut saya semua kisah Alkitab benar-benar terjadi (kecuali cerita-cerita tertentu yang sengaja ditonjolkan sebagai perumpamaan atau metafor) pendek, yakin, dan tegas: “Ya!” 
Kemudian, dari memberi kesaksian yang lebar panjang tentang keyakinan saya (itu yang dimohon) atau tentang visi dan misi LITINDO, saya mengutip saja jawaban yang telah diberikan lebih dahulu oleh seseorang yang lain. Bukankah Rasul Paulus telah menjawab pertanyaan itu dengan sangat jelas kepada orang-orang Korintus (1 Kor. 15)?! Dan perhatikan, Paulus itu bukanlah ‘orang kebetulan’ melainkan orang yang sangat khas. Dia yang pada awalnya mati-matian menolak Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia (ia bahkan menangkap dan membunuh orang-orang percaya), tetapi kemudian dia yang tanpa berhenti membela fakta dan kebenaran pelayanan Kristus kepada seluruh dunia. Kalau ada satu orang di dunia yang dapat memberi jawaban yang meyakinkan kepada orang yang mempertanyakan kebenaran historis Kitab Suci, Pauluslah.
 
Berkaitan dengan pertanyaan tadi, hal yang paling terkenal dan yang sekaligus paling inti ialah soal apakah Yesus Kristus benar-benar bangkit atau tidak. Paulus tanpa ragu-ragu menjawab: “Tetapi yang benar ialah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.” Lebih awal, Paulus menyebut banyak bukti kebangkitan itu (1 Kor. 15:1-11 ttg Yesus menampakkan diri setelah bangkit kepada banyak saksi mata), tetapi kemudian ia menjelaskannya bertitik-tolak dari penggenapan rencana Allah sendiri. Dengan kesimpulan: jika semua perbuatan-perbuatan besar Allah itu (bnd Kis. 2:11) tidak benar-benar terjadi, sia-sia iman kita (1 Kor. 15:12-19). Fakta-fakta Allah tidak mungkin disangkal. Kalau toh ada yang menyangkalnya, dia sekaligus menolak keselamatan dirinya dan mengaku tidak ada harapan untuk masa depannya.
Akhirnya saya mengajukan pertanyaan kepada yang tagi bertanya: “Apakah orang yang menolak kebenaran historis Kitab Suci, dan yang khususnya menyangkal kebangkitan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia, masih layak disebut Kristen? Apa gunanya kita percaya kepada Tuhan, kalau tidak mau menerima firman-Nya sesuai arti dan maksud Ia berikan-Nya (bnd 2 Ptr. 1:20-21)?
 
Ciri khas iman kita masing-masing, juga jemaat Kristen dan teologi Reformed, ialah pengakuan bahwa Alkitab – firman Allah! – adalah pengisahan fakta-fakta yang benar-benar terjadi dalam rangka Tuhan memenuhi rencana dan kehendak-Nya sampai tuntas. Mari kita menunggu saja satu fakta yang masih akan terjadi: penyelesaian segala-galanya dan hidup yang kekal bagi semua orang yang sungguh-sungguh menerima keselamatan dunia sebagai fakta Ilahi. Soli Deo Gloria.
 
Henk Venema
Pendeta-Dosen LITINDO