Home
Column: Roma 12:1-2
Tanggal: 23-07-2010
Penulis: Thijs Oosterhuis
1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Bila kita dapat bagian dari keselamatan oleh iman saja (Roma 3: 21 - 31) , dapat ditanyakan: apa yang boleh diharapkan oleh Allah dari pihak kita? Ibadah yang manakah tinggal bagi kita untuk dilaksanakan, karena semua sudah dikerjakan oleh Tuhan Allah?
Pertanyaan ini dijawab oleh rasul Paulus dalam Roma 12:1 dan 2: Didorong oleh kemurahan Allah, kita akan melakukan suatu ibadah yang terdiri dari dua hal:
- 1. persembahan tubuh kita
- 2. pembaharuan akal budi kita.
Persembahan tubuh kita
Untuk mendapat bayangan yang tajam tentang apa yang dimaksud oleh rasul Paulus dengan persembahan tubuh, sebaiknya kita memberi perhatian dulu kepada persembahan orang Israel pada zaman Perjanjian Lama. Persembahan pada zaman PL terdiri dari hewan atau ternak yang dipersembahkan sebagai korban bagi Tuhan. Ada bermacam-macam korban, misalnya korban bakaran, korban keselamatan, korban pendamaian dan korban penghapus dosa.
Jelas bahwa darah dari domba dan sapi tidak bisa menghapus dosa mereka atau mendamaikan mereka dengan Allah. Itu semua diatur untuk memberi orang Israel suatu cara supaya mereka dapat memperlihatkan kasih sayang dan pengabdian bagi Tuhan Allah. Sekaligus semua itu juga merupakan bayangan dan ibarat dari sesuatu yang masih tunggu penggenapan.
Penggenapan terjadi pada saat Tuhan Yesus menyerahkan tubuh-Nya untuk dipaku di kayu salib. Pada saat itu Dia menanggung seluruh beban dosa dari seluruh umat manusia, supaya kita bisa hidup dalam damai dengan Allah lagi. Bukan oleh darah lembu atau domba jantan, tetapi oleh darah Anak Allah sendiri.
Dan sekarang ini kita juga seperti orang Israel dulu dapat memperlihathan kasih dan bengabdian kita bagi Tuhan Allah dengan suatu pengorbanan, tidak lagi dengan mengurbankan seekor hewan tetapi dengan mempersembahkan tubuh kita, seperti Tuhan Yesus juga mengorbankan tubuh-Nya.
Jadi hendaknya tubuh kita tidak dipakai lagi untuk ikut kemauan sendiri dan untuk memuaskan hawa nafsu kita. Itulah semua perbuatan dari manusia lama kita yang sudah ditenggelamkan dalam air bah dari murka Allah yang diibaratkan oleh air baptisan. Maka manusia lama kita sudah dikuburkan bersama dengan Kristus yang menanggung murka Allah atas dosa-dosa kita sampai habis sampai Dia mati.
Tetapi Dia bangkit pula dari antara orang mati. Karena ketaatan-Nya yang sempurna, maut tidak berhak untuk menahan Dia. Maka Dia bangkit dari antara orang mati dan bersama dengan Dia manusia baru kita bangkit pula. Sebagai manusia yang baru kita mempersembahkan diri seanteronya kepada Tuhan Allah.
Jadi tidak cukup bilamana kita meninggalkan beberapa perbuatan yang jahat saja atau beberapa perbuatan yang jelek yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Tidak cukup kalau pertobatan kita terdiri dari hal itu saja. Seluruh kehidupan kita harus dipersembahkan kepada Allah. Semua kata yang keluar dari mulut kita harus bermaksud untuk memuliakan Nama-Nya dan semua perbuatan dan kegiatan tangan kita harus mempunyai maksud untuk membangun kerajaan-Nya.
Bagaimana ini bisa diwujudkan oleh kita dalam kehidupan ini yang dicemar oleh dosa. Supaya ini memang bisa diwujudkan dalam kehidupan kita perlu bahwa akal budi kita akan diperbarui oleh Roh Kudus.
Pembaharuan akal budi kita
Kehidupan orang kristen tidak ditentukan oleh daftar perbuatan yang harus dilakukan atau ditinggalkan. Mungkin kelihatan begitu; ingat saja akan Hukum Taurat: Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Dan seterusnya.
Tetapi sebenarnya semua perintah ini yang diberikan oleh Tuhan Allah mempunyai makna yang jauh lebih dalam daripada meninggalkan suatu perbuatan yang jahat atau jelek saja.
Misalnya, perintah Jangan mencuri tidak berarti saja bahwa kita tidak boleh mencuri barang dari sesama kita, tetapi kita diperintahkan oleh hukum yang kedelapan ini untuk mengindahkan milik sesama kita sebagai sesuatu yang diberikan Allah kepadanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Dan kita wajib untuk menjaga milik sesama kita, seakan-akan miliknya itu adalah milik kita sendiri, supaya dia tidak mengalami rugi dalam bentuk apapun. Di samping itu kita juga wajib untuk bekerja dengan setia supaya kita juga dapat memberi pertolongan kepada sesama kita yang mengalami kekurangan.
Itu semua terkandung dalam hukum kedelapan itu yang berbunyi: jangan mencuri.
Supaya kita mengerti makna yang mendalam ini dari semua perintah Tuhan, dan (yang lebih penting) supaya kita hidup sesuai makna itu, perlu akal budi kita diperbarui.
Bagaimana akal budi kita bisa diperbarui, karena jelas bahwa kita sendiri tidak bisa melakukan hal itu? Itu bisa dikerjakan hanya oleh Allah sendiri dengan Roh-Nya yang Kudus. Kalau Roh Kudus berdiam dalam hati dan akal budi kita, seluruh kehidupan kita akan berubah sehingga dengan sendirian kita akan melakukan yang dikehendaki oleh Tuhan Allah. Kita tidak dapat melakukan itu dari kekuatan kita sendiri. Roh Kudus yang berdiam dalam hati kita akan mendorong kita untuk melakukan semua yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Jadi, yang paling penting yang harus kita lakukan mulai sekarang ini adalah: membuka hati kita bagi Roh Kudus, atau dengan kata lain: hendaknya kita mempersembahkan kehidupan kita kepada Tuhan sebagai tempat perdiaman bagi Roh Allah.
Itulah bukan hal yang mustahil, karena Tuhan sendiri hendak berdiam dengan Roh-Nya dalam hati kita masing-masing. Asal kita senantiasa membuka hati kita bagi Firman Tuhan dan selalu menyerahkan diri dalam doa kepada-Nya, maka kita akan makin hari makin lebih menjadi serupa dengan Yesus Kristus Juruselamat kita. Maka ketaatan Anak Allah menjadi ketaatan kita sebagaimana dimaksud oleh Tuhan ketika Dia menciptakan kita.
Thijs Oosterhuis
mantan dosen STM GGRI-NTT di Waimarang
