Edward Hanock
Weblog Edward Hanock, dosen SETIA, sementara di Kampen, Belanda.
Anda dapat mengirim komentar di sini.
Zending zondag (Ibadah Misi LITINDO-SETIA)
12-03-2010 17:11
Minggu lalu, tepatnya Jumat-Senin pagi (5-8/3/2010), kami berada di Onnen, dalam rangka ibadah misi LITINDO-SETIA di GKv Haren. Kami sekeluarga bermalam di rumah pak Daan dan ibu Lidy van der Woude. Pada hari Minggu pagi, kami mendapat kesempatan untuk menyanyi di GKv Onnen, dimana ds. Henk Venema adalah gembala jemaat di sana. Dan pada sore harinya, kami menuju GKv Haren dan beribadah di sana. Yang memimpin ibadah misi pada saat itu adalah ds. Henk Venema. Selain menyanyi, kami juga mendapat kesempatan untuk berbagi kisah mengenai studi, keluarga dan juga SETIA kepada jemaat di sana. Setelah ibadah (sambil minum kopi), diskusi pun berlanjut, bahkan sampai pada ketertarikkan beberapa jemaat pada soal-soal Perjanjian Lama. Untunglah diskusi berjalan dengan lancar, meskipun dengan bahasa belanda yang masih 'amburadul'. Tetapi yang menarik adalah ada jemaat yang menanyakan apakah ada CD (compact disc) lagu yang baru saja kami nyanyikan. Mereka ingin membelinya!
Pada hari Senin (pagi) kami kembali lagi ke Kampen. Setelah tiba, saya langsung bersiap-siap untuk kuliah, begitu juga Gio harus ke sekolah. Cukup letih memang, tetapi kekeluargaan dan kebersamaan dengan kel. pak Daan van der Woude dan kel. pak Henk Venema serta jemaat baik yang di Onnen maupun di Haren, sangat menghibur. Apalagi pada hari Sabtu malamnya, dengan satu rombongan besar, kami diajak ke restoran China, Woe Ping. Wat een lekker en het was erg gezellig....!
dalam kasih-Nya,
Fam. Hanock-Lubis
Tahun 2010
01-03-2010 13:09
Tahun 2010. Adakah yang istimewa? Tentu saja. Menjelang akhir tahun 2009, keistimewaan tahun 2010 sudah mulai terasa. Apalagi kalau bukan "musim dingin". Dari beberapa informasi yang saya dengar, tentunya dari orang-orang Belanda sendiri, musim dingin seperti ini terakhir kali terjadi pada tahun 1979-80-an. Tipikalnya sama: turun banyak salju (kurang lebih 15 cm) dan dinginnya ekstrim (-15 derajat). Dibanding dengan musim dingin 2008/2009, musim dingin kali ini lebih hebat, paling tidak untuk ukuran kami yang nota bene adalah "vreemdeling[en]" (orang asing). Bagi saya dan Gio (anak kami), tidak begitu menjadi soal, namun lain halnya bagi istri saya (Rosita). Ia tidak cukup kuat menantang "dingin". Namun, saya juga salut padanya karena ia akan berupaya keluar dari rumah agar terbiasa dengan musim dingin. Tentu saja ia pergi ke tempat kerjanya di Myosotis (tempat perawatan para lansia).
Yang tidak kalah menyenangkan juga adalah menikmati putihnya salju. Sejauh mata memandang bisa dilihat pemandangan yang serba putih. Singkatnya: menyenangkan dan mengagumkan musim dingin tahun ini.
Tahun 2010 juga adalah tahun "ujian" untuk saya. Misalnya pada periode ini (Januari-Maret) saya telah mengikuti ujian untuk mata kuliah bhs. Ibrani II dan III. Hasilnya cukup memuaskan. Periode mendatang (April-Juni) masih ada empat mata kuliah: Orientasi Perjanjian Lama, Kitab-kitab Puisi dan Nabi-nabi, Dunia Perjanjian Lama dan bhs. Aram. Ujian tiga mata kuliah pertama akan serentak saya ikuti pada tanggal 1, 15, dan 29 April. Sedangan bhs. Aram akan menyusul.
Selain tahun "ujian" tahun ini juga adalah tahun-tahun intensnya persiapan kuliah master saya pada bulan september mendatang sekaligus riset untuk karya akhir (tesis). Jadi secara marathon tahun 2010 ini akan diisi oleh kegiatan "super" padat hingga tahun depan (2011). Saya katakan super padat karena memang begitulah kenyataannya. Tidak ada kultur santai, yang ada adalah kultur memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan belajar. Berjibaku dengan buku, itulah kultur belajar di Eropa. Walaupun dalam konteks tertentu banyak yang harus disesuaikan dengan kultur pemikiran Indonesia. Tetapi, untuk studi Perjanjian Lama yang sedang saya geluti, mau tidak mau harus kembali ke pemikiran-pemikiran kritis dengan sumber-sumber (literatur) seabrek-abrek! Syukurlah saya bisa menikmati kuliah ini. Sangat menyenangkan!
Tahun 2010, dimulai dengan menyenangkan, kiranya juga dapat diakhiri dengan menyenangkan!
Kampung pendeta=Kampen,
Februari 2010.
Salam
Fam. Hanock-Lubis (Rosita, Edward dan Gio Hanock)
MULAI DARI NOL
27-07-2009 11:32
Hampir satu tahun kami sekeluarga berada di Kampen. Tujuan keberadaan kami di sini berkenaan dengan studi lanjut saya di Theologische Universiteit Gereformeerde kerken Vrijgemaak (TUK), Kampen.
Pertama sekali ketika kami tiba dan memulai aktivitas di Kampen, kami hidup seperti “orang buta menuntun orang buta” karena bahasa Belanda kami sangat minim ditambah lagi dengan lingkungan baru, budaya baru dan sama sekali berbeda. Kami selalu bertanya, bagaimana kalau mau ke swalayan untuk belanja, menelpon dokter kalau sakit, ke Gereja dan masih banyak lagi “ke....” yang lain. Apa yang harus kami katakan? Berkaitan dengan cuaca, apakah kami dapat beradaptasi sekaligus menikmatinya? Ya, itu semua sangat berat kami rasakan.
Sebagai pendatang tentu saja itu sangat logis. Sangat logis karena untuk dapat beradaptasi dengan semua itu kami harus banyak belajar. Pertama-tama adalah bahasa. Kemudian budaya Barat. Berikutnya lagi adalah semua aturan-aturan di Belanda baik birokrasi (sewaktu-waktu kami harus melapor diri ke departemen-departemen terkait berkaitan dengan keberadaan kami di Belanda) maupun aturan perlalulintasan (karena kemana-mana [tentu saja di seputar Kampen] kami menggunakan sepeda).
Akan tetapi rupanya kami tidak sendiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya ketika dua kolega kami (pak Marianus dan pak Yusup sekeluarga) berstudi, di Kampen sudah menunggu saudara-saudara kami yang bertugas sebagai pembimbing selama kami berada di Belanda. Merekalah yang membimbing kami untuk mengetahui “ini dan itu boleh atau tidak boleh”. Bukan hanya itu saja mereka juga mengupayakan agar sedapat mungkin kami bisa “kerasan” di tanah seberang! Mereka melakukan semua itu dengan baik. Termasuk mengupayakan agar istri saya (Rosita) mendapatkan aktivitas harian agar tidak boring di rumah.
Sampai sekarang Rosita bekerja sebagai “tenaga sukarela” (vrijwilliger) di dua tempat berbeda: Myositis (setiap hari Senin dan Kamis) dan Vijverhof (setiap hari Selasa). Dua tempat ini adalah tempat perawatan untuk para lansia. Di sana ia membantu para “suster” untuk aktivitas sarapan pagi hingga aktivitas bermain. Ia sangat senang dengan aktivitas ini. Karena baginya ini juga toh adalah pelayanan kasih! Sedangkan anak kami Gio (nama panggilan), ia terdaftar sebagai murid di Gereformeerde Basisschool de Mirt. Pada tahun ajaran 2009/2010 nanti ia akan duduk di “groep” empat (di Indonesia kelas 2. Karena masalah bahasa, pada tahun ajaran 2008/2009 yang lalu kami pindahkan dia ke groep tiga, sekalipun ia sempat duduk satu-dua minggu di groep empat). Kami sangat bangga karena ia mendapatkan nilai (raport) yang sangat bagus, di luar dugaan kami. Bahasa Belandanya pun jauh lebih baik dari kami. Ya begitulah, anak-anak jauh lebih cepat belajar bahasa tinimbang orang dewasa.
Mengenai studi saya, sangat menarik! Perjanjian Lama yang adalah konsentrasi studi saya di TUK adalah studi yang berat, tetapi sekaligus menyenangkan. Ketika saya mengikuti kuliah di bawah bimbingan Prof. Dr. G. Kwakkel (prof. PL di TUK) dan Dr. Wolter H. Rose (dosen khusus bahasa semitik di TUK), saya harus ekstra kerja keras! Di kelas saya duduk di depan dengan tujuan saya bisa mendengar dengan baik dan mengikuti kuliah tersebut dengan penuh perhatian. Maklumlah, sebagaimana saya sebutkan di atas, bahasa Belanda saya sangat minim.
Selama saya mengikuti kuliah dua periode yang lalu, saya banyak mendapatkan perpektif-perspektif baru, bukan sekadar teori tetapi juga keseimbangan dalam hal praktik di lapangan. Mereka sangat kuat dalam hal mempelajari segala macam permasalahan-permasalahan teologi dari tahun-tahun sebelumnya sampai sekarang, tetapi juga mereka sangat kuat dalam iman: memercayai dan mengikut TUHAN! Dan yang lebih mengesankan adalah keakraban antara dosen dan mahasiswa sangat “kental” terlihat. Hal-hal di atas adalah bagian kecil dari karakteristik universitas teologi ini.
Jadi sangat jelas bahwa, kami mulai dari NOL di sini dan kami berharap akan mengakhirinya dengan sukses!
Kampung Pendeta (Kampen), 25 Juli 2009
Salam,
Fam. Hanock-Lubis.
