Home / Sejarah / LITINDO

LITINDO

Dalam tahun-tahun yang lalu, beribu-ribu buku Litindo telah beredar di Indonesia. Dan ada kalanya bahkan juga di Malaysia. Sayangnya, jumlahnya tidak sebanyak seperti di zaman Calvijn. Produksi kita sangat sedikit dibandingkan dengan itu. Tetapi meskipun begitu, niat dan kekuatan kita untuk menghasilkan produksi itu tidak kalah besarnya! Sebab buku-buku itu adalah sahabat-sahabat yang tidak pernah pergi, dan yang sering berhasil menempuh jalan yang tidak dapat dilalui oleh para pemberita Injil. Yang kita hasilkan bukan pamflet dan brosur, yang hanya menarik sebentar saja, melainkan buku-buku yang bermutu, yang menambah pengetahuan. Bukan dalam bahasa Inggris, bahasa ilmiah dalam abad ini, tetapi dalam bahasa Indonesia, yang bisa dibaca oleh seluruh bangsa itu.

 

Meskipun di Indonesia tidak ada budaya membaca, tetapi masyarakatnya sangat haus akan bacaan, dan kehausan itu semakin bertambah!

Baik pemerintah maupaun rakyat menganggap pendidikan sekolah sebagai kunci untuk lebih berkembang. Dan itu sangat merangsang kebutuhan akan buku-buku!

 

Berbeda dengan keadaan di Prancis dalam abad ke-16, buku-buku Kristen dapat dibeli dengan bebas di Indonesia. Namun sikap bermusuhan beberapa kelompol Islam terhadap orang Kristen yang merupakan kelompok minoritas di negeri ini, semakin meningkat. Berita-berita tentang penutupan gereja-gereja dan tindakan kekerasan terhadap orang-orang Kristen semakin mencemaskan. Selain itu - sama dengan keadaan dalam abad ke-16 - kegiatan berbagai aliran pembaptis membentuk ancaman besar bagi gereja-gereja. Dan pada saat bersamaan, kegiatan yang sama itu - seperti juga dalam abad ke-16 - mengobarkan kejengkelan dan permusuhan di kalangan pemerintah dan penduduk yang non-Kristen. Dalam situasi itu buku-buku Kristen Reformed akan memainkan peran yang krusial dalam perkembangan gereja selanjutnya.

 

Apakah kita menyadari betapa pentingnya buku-buku dalam pemberitaan injil? Dalam saat-saat yang menentukan, buku-buku menjadi lebih berguna daripada seorang penginjil, yang sesudah beberapa tahun pergi lagi, dan sering tidak meninggalkan banyak pesan yang tetap diingat. Calvijn sangat menyadari hal itu. Memang, dia telah mengutus ratusan penginjil ke Prancis. Tetapi di samping itu, dikirimkannya uga buku-buku! Dan kita melihat bagaimana Allah telah memberikati tindakan itu! Alangkah besar panen yang telah dituai karenanya!

Dan janganlah kita lupa berdoa. Berdoa supaya Allah berkenan melakukan pekerjaan-Nya dengan buku-buku itu di Indonesia, seperti telah dilakukan-Nya di Prancis beberapa abad yang lalu!