Home / Blog / Pdt. H. Venema

Pdt. H. Venema

Anda dapat mengirim komentar melalui http://pahengpendetadosenpenulislitindo.blogspot.nl

 

Matius 16:24 - Mengikut Yesus: itu baru hidup! (khotbah)

17-06-2012 22:52

① Saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus, ② Jika anda ditanya, “Siapakah Anak Manusia itu?”, apa jawab-mu? Menurut anda, siapa Yesus? ③ Saya yakin, saudara-saudara sekalian akan memberi jawab-an yang Petrus berikan, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Sebagai warga jemaat, kita semua sudah mengenal Tuhan, Allah Tritunggal – Bapa, Anak, Roh Kudus. Kita percaya kepada-Nya, juga dibaptis dalam Nama Allah Tritunggal itu. Nama kita sudah diikat kuat dengan Nama Tuhan itu. Dan kita juga meng¬aku bahwa kita diselamatkan oleh Yesus Kristus, Sang Mesias, Anak Allah. Dialah sungguh-sungguh Juruselamat kita. ④ Khususnya pada Hari Minggu ini, kita bersyukur kepada Tuhan, karena di tengah-tengah kita tiga saudara yang siap untuk meng-aku imannya masing-masing di depan umum. Di antaranya dua yang menjadi besar di dalam jemaat dan yang telah mengenal Tuhan dari masa kecilnya, dan satu yang dari luar yang akan dibaptis menjadi anggota jemaat Kristus di sini hari ini. Mereka yang memberi kesaksian tentang iman mereka. Tetapi dengan pengakuan dan pembaptisan itu, kita semua diper-kuat dalam iman kita, bahwa Yesus Kristus, Anak Allah dan Anak Manusia, adalah Mesias dan Tuhan kita masing-masing. ⑤ Selanjutnya, apa sebenarnya arti pengakuan kita ini (bukan hanya pengakuan mereka, melainkan pengakuan kita semua)? Dan apa konsekuensi dan akibatnya untuk hidup sehari-hari kita? ⑥ Mengaku iman dengan mulut kita, itulah hal gampang saja. Tetapi setiap kita langsung mengerti bahwa mengaku iman kepada Tuhan bukan hal instan, bukan satu kali bilang ‘Aku percaya’, lalu selesai untuk selama-lamanya. Sebaliknya, pengakuan itu menjadi refrein hidup kita, garis merahnya, dasarnya. Seluruh hidup kita – cara hidup kita, isi hidup kita, tujuan hidup kita – menjadi peng¬akuan iman yang terus-menerus. Kita menjadi pengikut Yesus kapan saja dan dalam apa saja, dalam hal besar maupun hal kecil, dalam suka dan duka, setiap hari setiap saat, dengan sadar, yakin, dan dengan komitmen yang total. Bagi setiap kita yang percaya, senantiasa hanya ada satu tujuan: mengikut Yesus. Karena kita sadar bahwa ⑦ Mengikut Yesus, itu baru hidup! ⑧ Selama Yesus melayani di bumi, banyak sekali orang yang ber-kerumun mengikut Dia. Mereka mendengar pengajaran-Nya dan melihat mukjizat-mukjizat-Nya. Mungkin mereka sendiri disem-buhkan-Nya atau mengalami pengusiran roh jahat. Mereka ter-kesan karena Yesus ini luar biasa. Tetapi apakah mereka benar-benar mengikut Dia? Kebanyakan mereka hanya menganggap Dia adalah seorang nabi seperti Elia dan Yeremia, dan baru saja Yohanes Pembaptis. Itu saja. Bagi mereka Dia bukanlah Mesias. ⑨ Kita memang belum pernah bertemu dengan Yesus sendiri seperti kaum Israel lebih dahulu. Sekarang ini Yesus sudah kembali ke surga. Tetapi melalui Kitab Suci – firman Tuhan! – kita pun mengenal Dia dengan baik, mendengar keterangan-Nya tentang keselamatan dan kedatangan Kerajaan Surga, melihat semua muk-jizat yang dilakukan-Nya. Kita pun terkesan, mendengar Injil menge¬nai Yesus adalah Juruselamat dunia. Tetapi apakah kita benar-benar mengikut Dia? Menurut anda, siapa Dia? Hanya orang luar biasa, sama seperti … Atau Mesias? Saya mohon setiap kita menguji dirinya sendiri. ⑩ Mengikut Yesus, bukanlah hal sepele saja, bukan hal terserah, insi¬dental, sementara, multiple choice. Mengikut Yesus berarti kita mengambil keputusan yang sadar, membuat pilihan yang yakin, dan melakukan ketaatan yang tetap dan total. Mengikut Yesus memang hal ketaatan, dan bukan hal kesukaan. Tidak lain, Yesus memberi perintah yang hendak kita semua taati, “Ikutlah Aku!” Dan pengakuan kita berarti, kita siap sedia melakukan itu. ⑪ Mengikut Yesus, apa itu dalam praktik kehidupan kita? Yesus sendiri yang menjelaskannya, “ …, ia harus menyangkal dirinya” dan menyerahkan dirinya secara total kepada Dia (ay 24). ⑫ Dalam Mat. 16, bagi Yesus telah tiba saat yang menentu-kan. Yesus memulai tahap terakhir pelayanan-Nya, sekaligus puncak-Nya. Sampai saat ini Ia berkeliling, tetapi mulai sekarang Dia terarah ke Yerusalem untuk men¬derita, mati, dan bangkit (ay 21), dan dengan itu menyelesaikan misi-Nya. Justru pada saat ini, Dia membuat evaluasi dengan bertanya, “Siapa Aku menurut orang, menurut engkau?” ⑬ Jawaban banyak orang tidak jelas, tapi kabur. Ternyata, mereka tidak menerima Yesus sebagai Mesias, hanya sebagai nabi seperti Elia, Yeremia, dan – baru-baru – Yohanes Pembaptis. Murid-murid Yesus pun belum pasti. Sekalipun Petrus memberi jawaban yang gamblang dan tepat, ia belum 100% menyangkal dirinya, karena kemudian ia menentang Yesus, menjadi sarana Iblis (ay 22-23). Kita pun mungkin begitu: percaya, tetapi … Apakah kita bersedia menyangkal diri kita, menerima semua konsekuensinya, yaitu memikul salib kita, ikut menderita, tapi juga ikut dimuliakan? ⑭ Sifat manusia, bagaimana ya? Biasanya tidak mau menyangkal diri, tetapi mau mandiri, mengurus sendiri, mencari nama, menye¬lamatkan nyawanya. Lihat saja di dunia: semuanya sibuk untuk dirinya sendiri saja. Orang seperti itu tidak memerlukan Mesias, tidak mau percaya, tapi menolak-Nya (bnd ay 20). Tambah lagi, kalau percaya berarti menderita – memikul salib – artinya disiksa, diolok, ditahan, bahkan dibunuh bagi Nama Yesus? Siapa yang mau? Apakah anda siap sedia mengikut Yesus dalam kematian? Padahal, justru itu, yang punya hasil bagus: akhirnya dimuliakan bersama-sama dengan Kristus, tidak mengalami kematian kekal. ⑮ Mengikut Yesus berarti: posisi kita di belakang Yesus, dan bukan di depan-Nya. Dia Juruselamat dan Jurujalan ke Kerajaan Bapa-Nya di surga. Kalau berjalan sendiri > kesasar dan celaka. Kalau mengikut Yesus, tetap dan selalu, kita hidup. Mungkin sulit, tetapi akhirnya terjamin: kemuliaan yang kekal di bumi baru. Amin. (Khotbah ini disampaikan kepada jemaat GKJTU di Ngaduman (Salatiga, Jawa Tengah) pada Hari Minggu 17 Juni 2012. Dalam ibadah ini, delapan pemuda/i mengaku imannya di depan umum, di antaranya satu menerima tanda perjanjian baptisan.)